| Suara Gempa - 79 sec Apabila bumi digoncangkan dengan dahsyatnya, dan bumi telah mengeluarkan segala kandungannya, dan manusia bertanya: "Apa gerangan yang terjadi?".
Pada hari itu, semua peristiwa diungkapkan, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan yang demikian kepada bumi.
Terjemahan Al Qur'an Surat ke 99, Al-Zalzalah (Gempa), ayat 1 s.d 6
========================================
Berdasarkan pemantauan dari empat stasiun seismograf di Gunung Merapi oleh Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan laporan dari Global Seismic Network milik Amerika Serikat, gempa tektonik 27 Mei 2006 di Yogyakarta ini tepat terjadi pada pukul 05.53.58 WIB, persisnya di koordinat 8,007 Lintang Selatan dan 110,286 Bujur Timur dengan kemiringan 87 dan pergeseran 3 , pada garis lurus pada kedalaman 33 KM di bawah permukaan tanah, yang berjarak kurang dari 35 km dari Yogyakarta persis di bibir pantai.
Waktu sholoat Shubuh menurut Shollu v3.05 untuk daerah Bantul pada tanggal 27 Mei 2006 adalah pukul 04:32:08 WIB dan Matahari terbit pukul 05:43:56 WIB. Gempa tektonik ini terjadi setelah 10 menit batas waktu sholat Shubuh berlalu. Berbahagialah bagi korban gempa yang telah melakukan Sholat Shubuh sebelum pukul 05:43:56 WIB, menyambut Matahari terbit dengan mempersiapkan diri bekerja ke kota, lalu tiba-2 tepat pada pukul 05.53.58 WIB terjadi gempa, tertimbun reruntuhan bangunan dan gugur sebagai syuhada.
Merupakan pelajaran dan peringatan bagi anak-anak yang belum dewasa maupun ABG (Anak Baru Gede), yang pada saat gempa belum terjadi telah dibangunkan oleh orangtuanya untuk segera melakukan Sholat Shubuh. Harus berapa kali para orangtua membangunkan anak-anaknya untuk segera melakukan Sholat Shubuh dan hanya ditanggapi dengan menggeliatkan badan, enggan untuk segera bangun dari tidur, sementara waktu Shubuh akan segera lewat. Bagi anak-anak dan ABG yang waktu gempa itu terjadi belum sempat Shalat Shubuh, padahal telah dibangunkan oleh orang tuanya berkali-kali, mohon ampunlah kepada Allah SWT dan minta maaflah kepada orangtua kalian dan berjanji untuk melakukan Sholat Shubuh sesuai waktu yang telah ditentukan.
Bagi kita semua, yang pagi itu telah menjalankan Sholat Shubuh pada waktu yang ditentukan, namun tidur lagi. Kita jadikan gempa ini sebagai pelajaran bahwa, tidak ada untung dan kebaikannya tidur lagi setelah Sholat Subuh. Malahan kata orang, tidur setelah sholat Shubuh dapat menjauhkan kita dari Rezeki. Auteur : wanawotvideo Tags: gempa  | | gempa bumi - 268 sec podo ilingo saudaraqu Auteur : nangkrank22 Tags:goyanggggggggg  | | % Suara hati %, gempa Bantul Yogyakarta - 232 sec Ada dua kalimat yang setiap saat saya dengar selama dua hari berada di Bantul itu, setelah mengucapkan, "Maturnuwun sanget (terima kasih sekali), " mereka meneruskannya dengan, "Saking pundi tho jenengan .., jenengan niku sinten ..?" Artinya kurang lebih adalah "Anda itu siapa, berasal darimana?" Pertanyaan yang tak perlu repot-repot dijawab, karena seulas senyum jauh lebih berarti dari ribuan kata-kata tak bermakna yang belakangan ini banyak diumbar di kota kecil itu. Diantara yang bertanya, ada seraut wajah yang tidak hilang seiring waktu berjalan, dialah mbah Djiyem, sudah renta sekali. "Sampun mboten kemutan (enggak ingat)", katanya ketika ditanya berapa usianya? Ketika bertemu sosok ini di kala senja di sebuah dusun terpencil di wilayah Jetis, hujan deras mengguyur menyedihkan hati, kain kebayanya basah dan kumal, ia duduk sendirian diantara puing-puing rumahnya, hanya mengenakan penutup kepala tas kresek warna hitam, perutnya melilit minta diisi, sudah dua hari ia tak bertemu makanan. Di sebelahnya ada beberapa butir kelapa muda yang diberikan tetangganya, sebagian sudah dibelah, tiga lagi masih utuh, itulah yang membantunya bertahan hidup, padahal letak desanya tidak jauh dari pusat bantuan logistik yang bertumpuk luarbiasa banyaknya di sekitar kantor Bupati dan lapangan Trirenggo, tempat penampungan para pengungsi. Ia bertahan tak mau mengungsi, memilih menunggui anak cucunya yang diyakininya masih "tidur" di dalam "rumah" yang sudah menjadi puing. "Nenggani putu kulo, tasih tilem wonten ngandap", katanya sembari berulang-ulang menyapu matanya dengan ujung kebayanya yang kuyup. Antara tetesan air mata dan dan air hujan sudah tak bisa dibedakan lagi. Bagi seorang nenek, cinta kepada cucu kadangkala melebihi cinta terhadap apapun di dunia ini. Untuk cinta semacam itulah ia rela diam, tak bergeming dalam gelap, kehujanan dan kepanasan, tanpa makanan. Bila fisiknya masih perkasa, siang malam ia pasti menyibak tumpukan batu bata dan kayu, yang menghalangi kerinduannya memeluk sang cucu.
Alam memperlihatkan Kuasa Tuhan yang amat menggetarkan, menyentak sebagian besar warga Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya; yang selama beberapa bulan terakhir memusatkan perhatian pada Gunung Merapi yang sedang aktif luar biasa. Siapa menduga bahwa jauh di dalam kulit Bumi sana juga ada aktivitas lain yang lebih subtil untuk ditangkap indera manusia. Di lepas pantai Yogyakarta di Samudra Hindia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia bertumbukan dengan dahsyatnya, melepaskan energi yang menyebar dengan kekuatan tak tertahankan untuk ukuran manusia.
Gempa berkekuatan 5,9 SR yang mengguncang Jogja dan Jateng 27 Mei 2006 menyisakan isak tangis dan haru biru bagi warga Jogja dan Jateng. Rumah, toko, kendaraan, dan hewan ternak semua habis tak tersisa. Sebagian pula harus rela kehilangan kekasih dan sanak keluarganya untuk selama-lamanya. Sungguh guncangan hebat yang terjadi pada pagi buta itu menjadi cerita duka bagi warga Jogja dan Jateng. Hanya orang-orang yang bermental bajalah yang tetap tabah menjalani semua cobaan yang diberikan Yang Kuasa ini.
Sesungguhnya, kemuliaan kita di dunia lain ditentukan oleh keberanian dan kerelaan kita untuk berpisah dengan apa yang kita cintai di dunia ini. Memang banyak peristiwa yang tidak bisa kita duga sebelumnya. Kehilangan dengan apa yang kita cintai di dunia ini,... mudah-mudahan menyadarkan kita tentang apa yang sesungguhnya harus lebih kita cintai. Berpisah adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Jangan terjebak kebodohan dengan terus menerus mengingat manis dan pahitnya masa lalu. Kebencian manusia kepada perpisaan dengan apa yang dicintainya di dunia ini hanya akan mengantarkan kebencian manusia tersebut kepada Tuhannya. Hanya Allah SWT yang seharusnya lebih kita cintai. Mudah-2an kerelaan perpisahan dengan selain DIA akan mengantarkan kita kepada dunia lain yang lebih baik yang DIA janjikan. Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | Isu Tsunami, Gempa Bantul Yogyakarta - 61 sec Aku ingat benar, hari itu jum'at malam. Agak larut aku pulang kerumah, biasanya jam 05.30 sudah bangun dan ber-siap2 berangkat kerja. Tapi pagi itu aku masih terlelap. aku kebetulan tidur disamping Mbah Putri-ku. biasanya pagi2 beliau sudah bangun, menyapu halaman. Pagi itu tidak.
Hari itu, Sabtu tanggal 27 Mei 2006. Sekitar pukul 5.54 akhirnya aku terbangun .. karena merasa kasur kami bergerak- gerak .. wahhh gempa bumi!! Langsung aku ingat Merapi dalam status siaga. Aku melihat benda2 mulai berjatuhan. Kubangunkan Mbahku. Kuajak dia turun dan menyelamatkan diri, tetapi berdiri saja beliau tidak bisa karena kaget, kucoba gendong beliau tetapi tidak kuat. Kupanggil Ibu dan mas2ku tetapi tidak ada jawaban. Hanya terdengar bunyi barang2 berjatuhan. Mengerikan sekali. aku tidak mungkin lari sendiri dan meninggalkan Mbahku itu. jadi ketika mulai kudengar beliau berdoa, menyebut-nyebut nama Tuhan, tanpa sadar kulihat cincin dijariku .. teringat suamiku... Kepeluk Mbahku dan pasrah...
Tiba2 setelah 57 detik (yang rasanya seperti 57 jam) gempa besar berkekuatan 5,9 skala ritcher itu berhenti. Seperti mendapat kekuatan entah dari mana .. kugandeng Mbahku dan kuajak keluar .. material bangunan rumah kami berjatuhan jadi kami keluar dengan hati2. Didepan pintu keluar kakakku sudah menunggu .. langsung Mbahku digandeng dia. Dan aku berlari mencari IBU, kupeluk beliau. Tetapi kakiku terasa lemas ketika aku tidak menemukan adikku .. dia 19 tahun dan malam itu menginap ditempat temannya. Aku lari kerumah dan mengambil HP.. kucoba hubungi dia .. ku SMS dia juga suamiku. tapi service tidak berfungsi.
Semua orang melihat kearah Merapi karena berpikir Merapi meletus dan menyebabkan gempa, ternyata Merapi tampak baik2 saja dari kejauhan. Aku tidak menyadari bahwa gempa itu membawa banyak korban meski mulai banyak orang berseliweran membawa orang lain yang tampak berdarah-darah. Kemudian aku ber-siap2 berangkat kerja. Ketika menunggu mini-bus kearah kota .. Ibu dan Mbahku duduk disampingku. Kuminta Ibuku kepasarnya nanti saja kalau sudah tenang (beliau punya warung makan dan setiap pagi ke pasar berbelanja bahan2).
Tiba2 setelah beberapa saat dari kejadian gempa .. kulihat ratusan orang dengan motor dan mobil, mereka menyalakan lampu..dan berteriak: "Air..! Air..! Tsunami..! Lari..! Lari !!". Aku panik, kugandeng ibu dan Mbahku, kuajak berjalan mengikuti masa. Tiba2 kakiku lemas dan ingat suami serta adikku. Aku menangis sampai ibu berteriak: "Ayo pergi ketempat lebih tinggi !!". Kulihat mas2ku dan sepupu2ku sudah siap dengan motor .. kami ber-bonceng2an mengikuti arah masa dan lari dari isu tsunami. Suasana sangat kacau .. orang2 berteriak tidak sabar, banyak yang menangis .. anak2, laki2, wanita, bahkan bayi. Kulihat juga orang2 terluka terjebak arus ketika berusaha mencari rumah sakit terdekat. kudengar banyak orang terluka meninggal dunia karena isu tsunami tersebut... karena tidak segera ditolong.
Hari itu untuk pertamakalinya kulihat banyak orang terluka dan mayat2 dengan mata kepalaku sendiri. Waktu itu ada petugas berpakaian preman dengan radionya berusaha menenangkan masa dan mengatakan itu hanya isu. Tetapi suara pak petugas itu kalah dengan jumlah masa yang begitu banyak. Kami lari kearah Merapi yang statusnya siaga !!! sepanjang jalan aku menangis, inget suami dan adikku. Tiba2 ibuku yang 'hanya' lulusan SMA, yang 'hanya' penjual makanan itu berkata ..: "Logikanya, kalau ada tsunami tidak akan sampai ke arah kita.. Tempat kita itu kan jauh sekali dari pantai. Kalaupun sampai sini mungkin hanya sedikit air". Hebat wanita itu!! Ketika semua orang dikeluargaku panik ,dia masih bisa berpikir logis.
Akhirnya kami kembali kerumah, tapi tidak berani masuk .. tiduran ditanah terbuka karena gempa2 susulan terus terjadi. Hari itu adalah hari terpanjang dalam hidupku. kami tidur diemperan rumah tetangga .. Mengambil kursi2 untuk menutupi dari jalan raya, hujan serta angin menambah penderitaan kami. Tidak ada listrik, hanya suara radio yang terus mengumumkan jumlah korban dan suara ambulance yang setiap 5 menit meraung. Suasana semakin mencekam ketika dari mulut kemulut kami mendengar isu akan ada gempa yang lebih besar. Baru sekali itu dalam hidup, aku merasa begitu takut dengan ketidakpastian akan apa yang terjadi. Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | --Gunung Merapi dan Gempa Bantul Yogya-- - 283 sec Hati kita tertunduk penuh duka atas terjadinya bencana alam gempa bumi di Yogyakarta dan kawasan Jawa Tengah sekitarnya Sabtu pagi 27 Mei 2006.
Belasungkawa sedalam-dalamnya dan doa kita tujukan kepada korban yang meninggal akibat bencana tersebut. Harapan kita, kepada saudara-saudara kita ini, demikian pula kepada mereka yang luka-luka dan yang harus mengungsi, dapat kita berikan pertolongan dan bantuan sebaik-baiknya.
Alam memperlihatkan Kuasa Tuhan yang amat menggetarkan, menyentak sebagian besar warga Yogyakarta dan sekitarnya, yang selama beberapa bulan terakhir memusatkan perhatian pada Gunung Merapi yang sedang aktif luar biasa. Siapa menduga bahwa jauh di dalam kulit Bumi sana juga ada aktivitas lain yang lebih subtil untuk ditangkap indera manusia. Di lepas pantai Yogyakarta di Samudra Hindia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia bertumbukan dengan dahsyatnya, melepaskan energi yang menyebar dengan kekuatan tak tertahankan untuk ukuran manusia.
Penjelasan di atas kiranya melegakan kita yang tergerak untuk mengaitkan gempa kemarin dengan kemarahan Ratu Laut Selatan (Nyi Roro Kidul) atau sinyal gaib Kemurkaan Tuhan pada bangsa ini. Sekali lagi Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya dan memberi cobaan serta peringatan kepada kita semua. Ribuan rumah rata dengan tanah, ribuan jiwa meninggal dunia menghadap Illahi akibat terkena reruntuhan bangunan. Bagi mereka yang meninggal dunia, mereka telah dipilih Allah SWT untuk menjadi syuhada.
Kita menerima realitas, Yogyakarta dan sebagian besar wilayah Tanah Air kita lainnya memang rawan terkena bencana alam, baik yang disebabkan oleh aktivitas tektonik maupun gunung berapi. Sebutan negeri zamrud di khatulistiwa beserta keelokan dan kekayaan alamnya seiring dengan sebutan lain yang menggetarkan, seperti pusat ring of fire dan area pertemuan lempeng-lempeng tektonik dunia yang amat aktif. Tak pelak lagi, letusan gunung api dan gempa seumur-umur akan menjadi bagian urusan kita. Namun, justru oleh realitas alam itu, kita diamanatkan untuk menjadi bangsa yang cerdas dan waspada. Alam Indonesia mengamanatkan agar kita punya program mitigasi bencana yang aktif, canggih, dan kapabel.
Pada sisi lain, setiap kali terjadi musibah bencana alam, kita menyaksikan umat manusia dipersatukan tanpa memandang batas negara dan perbedaan-perbedaan. Solidaritas antarmanusia selalu terbangun manakala ada sesama dirundung bencana. Seperti halnya di Aceh, di Nias, dan di wilayah wilayah lain. Pada musibah Yogyakarta ini kita melihat uluran bantuan segera datang dari berbagai pihak, di dalam dan di luar negeri. Semoga semangat kemanusiaan senantiasa juga hidup mewarnai pergaulan manusia pasca bencana.
Di pihak lain, saudara-saudara kita yang sedang berjuang mempertahankan hidup di rumah sakit, para korban luka yang membutuhkan darah, mereka yang kehilangan rumah tinggal, kehilangan kekasih; di Bantul, di Klaten, dan tempat-tempat lain, pastilah sekarang ini sedang menunggu datangnya bantuan. Mari kita sampaikan segera bantuan dan pertolongan kita bagi mereka, dan yakinkan bahwa mereka tidak sendiri di saat menderita sekarang ini. Semoga amal kita diterima oleh Allah SWT dan mendapat balasan yang lebih baik. Amiin Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia isu Tsunami  | | BING, Kurban Gempa Bantul Yogyakarta - 266 sec Ini pertama kalinya aku menuliskan ceritaku dari Dubai, United Arab Emirate. Aku sering membaca tulisan saudara-saudara sebangsa kita di manapun mereka berada. Tapi untuk kali ini aku ingin sekali berbagi kepada semua pembaca. Begini ceritanya.........
Tanggal 27 May 2006.. adalah saat yg ditunggu-tunggu oleh group kami untuk tampil dalam acara Staff Party. Kami sekitar 17 orang Indonesian Staff di Fairmont Hotel Dubai, sudah berlatih sedemikian intensifnya selama sebulan untuk menyajikan pertunjukan yg terbaik. Kami berlatih disela-sela waktu kerja. Kadang sebelum dan sepulang kerja, atau hari libur. Kami dedikasikan waktu dan tenaga serta materi untuk acara ini. Karena ini penampilan pertama Indonesian Staff setelah 3 tahun berturut-turut absen.
Ide ceritanya sangat simple. Tentang cinta segitiga di BALI.... dan group kamipun bernama EXOTIC BALI.... kami meramu tarian traditional dgn modern dlm suguhan cerita tersebut di panggung. Ada tarian Bali, Betawi, Sunda.. dan .. kostum dari Bali, Kebaya dari sunda serta 9 orang pria sebagai penari kecak. Nampaknya semua sudah tersusun dgn rapi.. penampilan audisi dan gladi resikpun tidak mengecewakan..... sampai di hari H....... kami semua terkejut dan sangat shock!!! Karena satu diantara anggota group kami yg mendapatkan tugas sebagai operator lighting, mendengar berita gempa bumi di Yoyga yg mana daerah yg paling parah terkena dampaknya adalah tempat tinggal keluarga inti teman kami tersebut ..... ISTRI, ANAK-ANAK, ORANG TUANYA ..... ada disana....... Coba anda bayang betapa gusar dan khawatir perasaan teman kami tersebut.
Mulai dari alinea ini saya ganti kata-kata teman kami .. dgn namanya...... TRISNO... itulah nama panggilan yg sering kami pakai dlm setiap berinteraksi......
TRISNO.. andai kamu bisa membaca surat ini...... Kami semua temanmu di Fairmont turut merasakan beban dan penderitaanmu.... Kami berharap kita bisa berkumpul kembali di Dubai... merajut impian masa depan keluarga kita masing -masing ..... bersama .... di Dubai. Juga untuk Diaz... yg sedang berduka karena keluarga jauhnya menjadi korban. Jangan sedih.. teman... Doa kami untuk saudaramu ... semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya dan memberikan tempat yg layak disisiNYA.
Cerita ini saya kembalikan ke penampilan group Exotic Bali pada acara staff party ........ walau dengan perasaan berat.. kami semua harus tampil......istilahnya... SHOW MUST GO ON..... sebelum tampil... diruang ganti... kami berdoa bersama.... dan berjanji untuk tampil semaksimal mungkin merebut hadiah uang .. dan akan kami sumbangan untuk korban gempa bumi di Yogya dan sekitarnya.... terutama untuk teman kami TRISNO. Setelah diumumkan kami tidak memenangkannya. Dan itu kami terima dengan lapang dada. Akan tetapi setelah semua peserta turun panggung, General Manager kami memanggil nama saya untuk naik ke panggung..... Bercampur heran dan bingung, saya naik ke pentas. Lalu beliau mengumumkan bahwa manajemen tempat kami berkerja ikut prihatin dengan apa yg terjadi di negara kami, dan menyumbangkan dana sebesar 5000 dirham sebagai wujud keprihatinannya.
27 May 2006
Teguh Y-Dubai Auteur : wanawotvideo Tags: Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | Gempa Bengkulu Sumatera - 71 sec Indonesia
http://hanief.blogspot.com/2007/09/gambar-gempa-bengkulu-sumatera.html Auteur : iwanttofindyourvideo Tags:Gempa Bengkulu Sumatera quakeTremor Indonesia  | | Pasca Gempa Bantul Yogyakarta - 222 sec CERITA DARI GUNUNG SEMPU PASCA GEMPA
Sekitar pukul 7.00 WIB Pasca Gempa 27 Mei 2006, kondisi sepertinya sudah mulai tenang. Warga mulai melakukan aktifitas rutin pagi hari seperti mandi dan membersihkan rumah. Maka Ibu, Aunty dan mbak Karni menyiapkan mandi Vari di halaman belakang rumah. Baju ganti juga disiapkan di luar, karena kami belum berani berlama-lama di dalam rumah. Selesai Vari mandi dan Ibu bungkus dengan handuk, terdengar suara ramai orang berteriak-teriak "Airnya naiiik!!!! Airnya naik!!! Tsunami!!!" kontan Ibu menggendong Vari yang hanya berselimut handuk lalu berlari sambil menyambar pakaian ganti. Ketika kami sampai di depan rumah terlihat ribuan orang dari kampung sekitar kompleks mulai nenek-nenek, kakek-kakek, ibu hamil, dan orang-orang muda berbondong-bondong berjalan, menaiki motor ataupun mobil mendaki bukit Sempu (keterangan: perumahan Gunung Sempu tempat tinggal kami adalah daerah perbukitan yang merupakan daerah tertinggi di wilayah kami). Aunty Dewi segera menaiki motor sambil berteriak supaya mbah Kakung dan mbak Karni segera naik ke bukit juga. Mbak Karni yang kebingungan tidak mengerti ada apa segera saja berlari, bergabung dengan massa. Sedangkan mbah Kakung sempat ngeyel mau tinggal di rumah saja, namun karena melihat wajah kami yang pucat pasi akhirnya mbah Kakung ikut naik juga dengan mengendarai motor.
Cukup lama juga perjalanan menuju ke bukit yang jaraknya sekitar 150 meter karena padatnya massa yang menuju kesana. Ada tiga tempat tujuan mengungsi yaitu Masjid, gereja dan PusDikLat propinsi yang berada di puncak bukit. Kami sekeluarga menuju Masjid. Langsung berkelebat di benak Ibu tragedi Aceh. Air bah menerjang, rumah-rumah roboh, segala benda hanyut, ribuan orang meninggal... Ya Allah.. selamatkanlah kami. Dzikir tak lepas dari mulut kami, Ibu peluk Vari erat-erat, sedangkan Vari hanya bengong saja melihat orang-orang yang panik. Sampai di Masjid, Ibu memakaikan pakaian Vari dan ketemu dengan Mak'e, yang dulu pernah membantu di rumah kami, bertanya ada apa. Kata Mak'e ada tsunami. Air Pantai Selatan meluap dan sekarang sudah sampai Srandakan. Lalu Ibu kebingungan mencari Ayah dan Om Yudha yang ketika Ibu keluar dari gang rumah Uti sudah sempat terlihat. Telpon tidak bisa terhubung semua. Ibu semakin panik tapi mbah Kakung menenangkan, kata mbah Kakung, seandainya benar ada tsunami, Insya Allah kami aman, karena puncak Gunung Sempu ini tingginya 111 m di atas permukaan laut, sedangkan rumah kami 98 m di atas permukaan laut (mbah Kakung tahu persis data tersebut karena dulu kantor mbah Kakung yang membangun kompleks ini). Agak tenang sedikit memang, tapi tetap saja tidak bisa mengobati kepanikan. Apalagi ketika Vari bilang "maem.." duuh! Ibu semakin nelangsa, Vari pasti lapar karena memang sejak bangun tadi baru maem biscuit sepotong saja.
Alhamdulillah, tak lama kemudian Ayah dan Om Yudha muncul. Kata mereka, tidak apa-apa, tenang saja, Insya Allah tidak ada tsunami. Tapi melihat orang yang masih berbondong-bondong naik dengan membawa cerita masing-masing yang tidak selalu sama ditambah suara isak tangis, rasa panik itu belum juga reda. Apalagi ketika ada SMS dari Lucy yang mengabarkan "Tsunami! Segera Mengungsi". Ibu tambah panik. Berarti berita ini mungkin benar, karena Lucy yang tinggal di kota juga mengetahui berita ini. Untuk mencari informasi yang akurat, orang-orang yang membawa mobil segera menghidupkan radio. Kemudian didapat berita "Itu Hanya Isu!!! Keadaan aman. Laut memang sempat naik, tapi sekarang sudah tenang". Alhamdulillah, kelegaan mulai merayapi kami. Tapi masih sangat sedikit orang yang beranjak dari tempatnya. Kami termasuk yang masih tinggal disitu untuk memastikan bahwa keadaan benar-benar aman. Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia kasongan  | | Stratovarius, isu Tsunami Gempa Bantul Yogya - 315 sec Sabtu, 27 Mei 2006. Ini cerita singkat saya, salah satu sukarelawan pada hari pertama gempa Jogja. Saya tercatat sebagai anggota Global Rescue Network (GRN) yang bekerja di posko GRN Lhoong, Aceh dan sebagai dokter yang dikirim hari ke-2 setelah gempa Nias tahun lalu untuk melalukan serangkaian evakuasi disana sebelum tim inti GRN dengan mobil 4x4nya dapat masuk ke pulau Nias.
Saya berdomisili di Wodonga, Australia. Perjalanan kali ini ke Indonesia atas permintaan Lody Korua, korlap GRN untuk Jogja dan Jateng. Tugasnya adalah memantau Merapi ketika statusnya menjadi "awas".
Sabtu pagi yang dingin saya terbangun dengan tubuh yang segar dan semangat baru. Pagi itu kami telah menjadwalkan untuk kembali ke Jakarta setelah masa tugas memantau gunung Merapi selama 3 minggu. (Saat itu posko GRN berada di Salam, Magelang). Tim kami yang terdiri dari 4 orang segera berkemas dan menyiapkan sarapan agar dapat berangkat pagi itu.
Saat itu, belum pukul 6 pagi, tiba-tiba terjadi gempa. Pengalaman kami menghadapi gempa di Aceh, Medan dan Nias membuat kami cukup mampu memperkirakan kekuatan gempa yang kami hadapi... 6 SR!! Gempa itu begitu kuat sehingga Land Rover GRN yang telah di isi penuh dengan barang2 rescue dan posko kami sampai bergerak berguncang-guncang. Gempa itu terasa sangat lama dan benar2 menakutkan, membuat kami semua berlarian ketempat terbuka yang aman.
Saat gempa itu reda, kami masih terpaku beberapa saat dan pelan2 mulai bisa mengamati lingkungan kami dengan lebih baik. Kami lihat gunung Merapi di kejauhan mengeluarkan awan panasnya. Kami bisa mulai bercerita mengenai posisi kami saat gempa dan bagaimana kami menghadapinya. Kami melihat kondisi rumah yang dijadikan posko, hanya 1 genteng jatuh. Kemudian teman 1 tim kami memutuskan untuk berkeliling posko melihat kondisi rumah dan orang2 di sekitarnya.
Sementara mereka berkeliling, teman lain mencoba melakukan pembicaraan radio mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi tidak ada yang mengudara saat itu. Saya mencoba menyalakan TV untuk mencari berita tetapi ternyata lampu mati, listrik tidak ada. Saya lalu sms Lody Korua dan beberapa teman di kota2 lain mengabarkan tentang gempa yang cukup keras itu.
5 menit kemudian seorang teman mengabarkan gempa terasa sampai di Solo. Teman lain juga menghubungi, gempa juga terasa sampai di Probolinggo. Wah...kami jadi bertanya-tanya, dimana pusat gempa itu sebenarnya? Karena pasti dipusat gempa dan sekitarnya terjadi kerusakan bangunan yang parah dan kemungkinan ada banyak korban.
20 menit kemudian Lody Korua menelpon. Berita di TV pagi itu mengatakan pusat gempa berada di Laut Selatan. Dia meminta kami untuk segera ke Jogja karena disana banyak gedung runtuh dan korban berjatuhan. Kami juga diminta mengabarkan andaikan dibutuhkan tim lengkap GRN untuk segera berangkat ke Jogja membantu hari itu juga. Kami yang berada di Sleman, kaget dengan berita itu. Setelah selesai sarapan, tanpa mandi, kami langsung menurunkan sebagian besar barang2 kami dari mobil dan hanya dengan peralatan rescue segera menuju Jogja.
Hampir memasuki kota Jogja, jalan yang semula 2 arah tiba--tiba telah menjadi jalan 1 arah didepan kami. Arus kendaraan dari Jogja sangat banyak sehingga kendaraan dari arah Magelang tidak bisa bergerak maju lagi. Banyak pengendara2 motor itu yang berteriak ketakutan: "Air naik, air naik!". Lain pengendara motor berteriak: "Tsunami, tsunami! Lari!!" Suasana sangat mencekam saat itu. Kami segera memutar mobil kami kembali kearah Magelang, menunggu dan mengamati keadaan di pinggir jalan itu sambil tetap berusaha mengadakan hubungan radio, tetapi tetap tidak ada yang mengudara saat itu. Kami lalu menelpon teman2 di Jakarta meminta mereka memantau berita Jogja dan sekitarnya untuk kami. Banyak orang yang kebingungan, singgah dan bertanya kepada kami, tetapi kami juga sendiri tidak tau apa yang terjadi saat itu. Kami hanya bisa menatap ke arah kota Jogja dan orang2 yang panik disekitar kami dengan bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Sepengetahuan kami tsunami akan segera datang setelah gempa, bukan 1 jam sesudah gempa. Suasana ketakutan orang2 itu membuat perasaan kami juga tidak karuan.....ikut takut, bingung dan bertanya-tanya apakah tsunami benar2 ada. Kalo ada, kenapa tsunami kali itu menyimpang dari teori? Banyak sekali pertanyaan, ketakutan dan kesedihan dihati kami melihat situasi masyarakat saat itu.
Arus kendaraan sudah jauh berkurang, sekitar jam 10.00 pagi. Saat itu Ferdy, teman 1 tim kami bertanya: "Kita maju?" Saya mengiyakannya dengan 1 anggukan kepala. Itu keputusan yang berat, memasuki suatu kota yang ditinggalkan karena orang-orang berteriak tsunami. Jangan-jangan kami kesana hanya untuk mengantarkan nyawa saja. Tetapi itu harus dilakukan, kami harus melihat apa yang terjadi di kota itu. Auteur : wanawotvideo Tags:Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | gempa jogja 1 - 399 sec mengisahkan seorang tki korea yang keluarganya tertimpa gempa di yogyakarta,lalu pemerintah korea memberi izin cuti menengok keluarganya diyogya,anak dan sanak keluarganya meninggal,lanjutaya silahkan saksikan...... Auteur : respati212 Tags:yogya gempa indonesia  | | Isu Tsunami Baciro Gempa Bumi Bantul Yogya - 127 sec Kepada : Om Hari dan Om Kuncoro di Jepang
Assalammu'alikum Wr.Wb
Alhamdulillah, masih diberi karunia keselamatan dan kesehatan. Ini Faris dari Yogya ingin berbagi rasa dengan saudara2 yg ada di Jepang. Gempa berkekuatan 5.9 SK menguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 pukul 05:54 WIB. Waktu itu kami sekeluarga sedang berada dirumah. Begitu terjadi gempa kami langsung berhamburan keluar rumah. Alhamdulillah kami semua selamat. Saat itu listrik & radio setempat langsung mati. Begitu gempa yg berlangsung kurang lebih 1 menit itu berakhir, kami masuk rumah dan mencari tahu apa yg sebenarnya terjadi dari radio yg hanya beberapa stasiun yg masih mengudara. Alhamdulillah rumah kami tidak ada kerusakan sedikitpun.
Setelah itu kegiatan kami berjalan seperti biasa, karena kami pikir ini hanya gempa biasa. Saya pergi kesekolah sambil melihat-lihat kondisi Jogja. Hasan, Husain dan Ibu libur. Bapak, Hasan & Husain memastikan kondisi kost2an. Pada saat itulah tiba2 ber-bondong2 manusia berlarian mencari tempat yg tinggi. Saya sudah berada disekolah waktu itu. Kepanikan luar biasa terjadi diseluruh penjuru DIY. Saya mencoba menghubungi Bapak/ibu. Tapi saat itu semua jaringan telphon/HP tidak berfungsi! Saya tidak bisa pulang kerumah saat itu, karena arus lalulintas saat itu semua menuju keutara! Sementara Bapak, Hasan dan Husain yg sedang berada disekitar kost2an langsung menuju UMY yg merupakan gedung bertingkat 5. Tapi, sebelum sampai di UMY Bapak memutuskan untuk pulang, karena rumah kami termasuk dataran yg lebih tinggi dari pada UMY. Ibu langsung keluar rumah dan bergerombol bersama tetangga mendengarkan siaran radio.
Kepanikan itu mengakibatkan warga Jogja berhamburan, berlarian, menangis, histeri dan kehilangan akal sehat. Pom bensin setempat penuh! Arus kepanikan masa banyak yg berlarian kearah utara (Kaliurang, Magelang dan sekitarnya). Beberapa saat setelah itu ada beberapa pihak terkait yg mencoba menenangkan masa dengan mengatakan bahwa itu semua hanya isu !
Disekolahku beberapa siswa mencoba mencari kebenaran itu dengan mendengarkan siaran radio. Akhirnya saya dan teman2 disekolah dapat memastikan bahwa itu hanya isu. Tapi kami tertahan disekolah.
Setelah itu saya berhasil pulang. Saat itu listrik dan PAM masih mati. Menjelang malam keadaan makin mencekam Karena masih sering terjadi gempa2 susulan yg kwalitasnya tidak separah gempa utama. Malam harinya listrik belum menyala. Kami masih bisa makan dengan sisa logistik yg ada. Tapi keadaan saat itu masih berstatus waspada. Untuk mengantisipasi gempa susulan, kami tidur diteras depan. Semua HP dalam keadaan LowBatt. HP sementara hanya bisa untuk menerima SMS. Malam itu kami tidur dengan bergantian, agar saat gempa susulan terjadi, kami langsung siap!
Tidak kami bayangkan sebelumnya, ternyata gempa itu meluluhlantakkan daerah Bantul Selatan, Imogiri, Jetis, Kasongan dan daerah lain yg termasuk daerah lintasan gempa terhebat. Listrik mulai menyala hari Senin siang (29 Mei 2006). Itupun tidak menyeluruh. Berita diradio & TV sangat heboh dalam meliput bencana ini. Bantuan dari berbagai kalangan mulai berdatangan.
Tadi malam, didaerah rumah kami, tiba2 listrik mati. Kentongan dibunyikan, pemuda berjaga sampai malam. Karena beberapa hari terakhir daerah2 lintasan gempa yg belum sepenuhnya terjamah bantuan dan listrik masih mati, banyak terjadi pencurian, penodongan & penjarahan. Beberapa daerah bahkan dijaga oleh beberapa personel TNI dan Brimob.
Gempa itu menyisakan banyak sekali korban. Teman Bapak ada yg rumahnya roboh total. Beberapa teman saya & Hasan rumahnya retak, genteng hancur. Bahkan ada teman saya yg rumahnya hampir roboh. Sekolah saya tidak begitu banyak kerusakan yg berarti. Sekolah Hasan, bagian atap masjidnya rubuh. Sekolah sementara diliburkan 1 minggu.
Kemarin saya & ibu mengunjungi murid ibu didaerah Imogiri yg kerusakannya hampir menyeluruh. Murid itu bernama Wiyono. Murid yatim tempat ibu mengajar. Saat gempa dia sedang ber-siap2 kesekolah. Dia tinggal bersama neneknya, karena dia sudah tidak punya siapa2 lagi. Bahkan, kata ibu, waktu mendaftar sekolah, dia hanya bemodalkan tekad untuk belajar. Biaya sekolahnya sampai saat ini hanya mengandalkan beasiswa yg dibagikan Pemerintah. Dia merupakan siswa yg memiliki tekad dan semangat dalam menuntut ilmu. Rumahnya berjarak 20 Km dari sekolah. Dan jarak itu dia tempuh dengan menggunakan sepeda setiap harinya. Namun sekarang sepeda tempurnya itu sudah tertimbun rumahnya yg ikut runtuh akibat gempa. Saat berkunjung dia tidak terlihat kehilangan semangat dalam menuntut ilmu.
Sementara hanya itu dulu yg bisa saya ceritakan. Mungkin untuk sementara dalam ber-kirim2 E-mail agak tersendat karena kondisi sekarang tidak menentu. Sekian dulu, salam buat keluarga di Jepang.
Arigatogosaimasu!
Wassalammu'alaikum Wr.Wb
Yogyakarta, 31 Mei 2006 Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | *agil*, gempa Bantul Yogyakarta Indonesia - 244 sec Akibat gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter (SR) yang terjadi Sabtu (27/5) pukul 05.54, sampai saat itu (Minggu, 28 Mei 2006) sedikitnya 3.470 orang tewas. Sejumlah 2.900 korban berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan 570 orang dari Kabupaten Klaten. Getaran gempa itu juga terasa sampai Bandung dan Surabaya.
Gempa itu berpusat sekitar 37 kilometer dari Kota Yogyakarta. Pusat gempa (episentrum) terletak di 110,33 derajat bujur timur (BT) dan 8,26 derajat lintang selatan (LS) pada kedalaman 33 kilometer di bawah permukaan laut. Gempa itu juga menyebabkan ribuan rumah dan bangunan rata dengan tanah.
Jaringan listrik dan telekomunikasi juga terganggu. Semalam, suasana di daerah bencana terlihat mencekam akibat tidak adanya penerangan listrik. Apalagi sejak pukul 21.30, Klaten dan sekitarnya diguyur hujan lebat.
Ketika terjadi hujan proses evakuasi korban menuju ke sejumlah rumah sakit ke luar Klaten masih berjalan. Sampai pukul 24.00 suara sirine ambulans masih terdengar di jalan raya Yogya-Solo. Selain menggunakan ambulans, evakuasi juga menggunakan mobil bak terbuka tanpa penutup sama sekali. Pemandangan itu mengundang trenyuh warga yang melihatnya.
Semalam hampir semua warga tidak berani masuk rumah karena khawatir terjadi gempa susulan. Sejak pagi beredar isu akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan tiga kali lipat dari yang terjadi pagi hari. Akibatnya warga tidur di halaman rumah, tepi jalan, dan bahkan ada juga yang di tengah persawahan. Mereka hanya menggunakan penerangan dari petromaks, lampu darurat, lampu minyak, atau lilin.
Umumnya mereka tidur bergerombol dengan sanak kerabat atau tetangga. Begitu hujan, sebagian tetap bertahan di tenda-tenda seadanya. Sebagian lainnya sudah ada yang berani bernaung di teras atau masuk rumah yang relatif masih utuh. Ada juga yang mengungsi ke rumah saudara di luar Klaten.
Sejumlah rumah sakit di Yogyakarta dan Klaten tidak mampu menampung pasien korban gempa. Rumah sakit besar di Yogyakarta seperti RS Sardjito, RS Bethesda, RS PKU Muhammadiyah, dan RS Panti Rapih dipenuhi pasien yang menderita luka. Demikian pula di RS Bersalin Padmasuri dan RSU Bantul.
Semua pasien dirawat di halaman parkir dengan beralaskan tikar maupun hanya tiduran di rerumputan dekat pagar. Bahkan, karena sudah tidak mampu lagi menampung sebagian dilarikan ke RSU Tidar Magelang.
Keadaan serupa juga terjadi di RSUD dr Soeradji Tirtonegoro, RS Cakra Husada, RS Islam, dan Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) RM Soedjarwadi Klaten kebanjiran pasien. Di RSJD RM Soedjarwadi, tak kurang dari 470 korban gempa dirawat. Sejumlah pasien ditidurkan di taman RS milik Pemprov Jateng itu, sebagian lainnya di halaman dan lorong-lorong rumah sakit. Dari jumlah itu 34 di antaranya dibawa dalam keadaan meninggal dunia, sebagian besar warga Kecamatan Wedi dan Gantiwarno. Sementara ratusan pasien lain dirujuk ke RS Islam dan RSI Aisyah (Klaten) serta RS Ortopedi dan RS PKU Muhammadiyah (Surakarta). Instalasi Gawat Darurat penuh sehingga teras dan halaman dijadikan tempat penampungan pasien.
Suasana pusat Kota Yogyakarta terlihat sepi. Kawasan Malioboro yang biasanya ramai pada saban malam Minggu, semalam terlihat lengang. Sepanjang Malioboro dan parkiran Abu Bakar Ali yang biasanya penuh kendaraan, hanya ada satu dua mobil. Di jalan hanya satu-dua mobil yang lewat dalam semenit. Sementara itu tidak ada satu pun pedagang membuka dasaran. Pengunjung juga tidak ada yang berlalu lalang di pusat keramaian itu. Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | - 6.30 Pagi, Wirosaban Gempa Bantul Yogya - 355 sec BAU amis darah menyesakkan dada tercium di ruang unit gawat darurat (UGD) RS Sardjito, Yogyakarta. Bahkan bau dan ceceran darah di mana-mana itu memenuhi lorong-lorong ruangan dan berbagai ruangan di rumah sakit itu yang disulap jadi tempat penampungan korban gempa tektonik yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah, Sabtu (27 Mei 2006). Di lahan parkir RS Sardjito juga terlihat ceceran darah dan bergelantungan botol cairÂan infus. Sejumlah korban yang tidak tertampung dalam ruangan terpaksa berada di halaman RS tersebut. Sebagian korban mengerang dan menangis menahan sakit dan pilu. Sedangkan dokter dan paramedis tidak memiliki waktu senggang untuk sejenak saja menghirup udara segar, karena para korban gempa datang secara bergelombang dengan luka patah kaki, robek kulit dan daging, bocor bagian kepala, lebam dan memar di beberapa bagian tubuh. Akibat membeludaknya korban gempa yang butuh penanganan segera, operasi kecil atau melakukan tindakan menjahit bagian luka di kepala dan badan, terpaksa dilakukan di lorong, di halaman parkir, baik sambil jongkok atau berdiri. Tindakan higienis, sudah menjadi urutan lain, yang pasti korban harus segera diselamatkan.
Seperti yang dialami bocah dari Plered, Kab. Bantul. Tangisannya sudah tidak lagi mengeluarkan air mata, namun jelas erangan dan tangisan selalu menyertai ketika seorang tenaga medis menjahit luka menganga di kaki kirinya. Sementara sang ibu cuma bisa menangis sambil mendekap anaknya, dan ayahnya mengipasi tubuh putranya itu.
Sebagian besar dari mereka masih tidak percaya suara gemuruh di pagi hari itu, adalah gempa tektonik yang membuat mereka terluka. Konsentrasi mereka masih tertuju ke aktivitas Gunung Merapi yang mengeluarkan awan panas besar dua kali pada saat gempa terjadi.
Raungan sirene ambulans, gemuruhnya suara baling-baling helikopter, termasuk hilir mudiknya mobil-mobil umum yang membawa korban gempa, seolah berpacu dengan suara erangan para korban gempa yang didominasi kaum tua renta dan anak-anak. Mereka bergeletakan di sepanjang lahan parkir RS Sardjito sampai ke lorong-lorong. Sebagian warga lainnya, memenuhi ruang jenazah yang sampai pukul 15.30 di RS Sardjito tercatat 79 korban gempa meninggal, 14 di antaranya belum dikenal identitasnya.
Pemandangan yang sama juga terlihat di sejumlah rumah sakit di Yogyakarta seperti RS PKU Muhammadiyah, RS Panti Rapih, RS Bethesda, RSI Hidayatulah, RSUD Wirosaban, dan banyak rumah sakit kecil lainnya. Korban gempa membeludak sampai di Bantul. Mereka berderet di trotoar dekat RSUD Bantul, trotoar depan RS PKU Muhammadiyah Bantul, beralaskan tikar seraya menunggu perawatan. Banyak bantuan tenaga medis, seperti dari Dinkes Jabar yang mengirim para dokter dan paramedis senior dan dari RS St. Borromeus dan RS Santo Yusup untuk membantu tenaga medis di RS Bethesda.
Yang memprihatinkan, suasana di RSUD Senopati Bantul. Kondisi tenaga medis sangat terbatas, persediaan obatan-obatan habis, sementara korban gempa terus berdatangan. Namun yang membuat mereka merasa sedih adalah, korban gempa terpaksa tergeletak tanpa naungan tenda-tenda dan bantuan logistik. Akibatnya, selain kepanasan dan terpapar debu, mereka juga kelaparan dan kehausan. Lebih jauh lagi, rintihan para korban gempa menambah suasana kian mencekam menjelang sore, tanpa penerangan, logistik dan tenda.
Pada tahun 1867 di Yogyakarta pernah terjadi gempa bumi yang merobohkan 372 rumah, 5 orang meninggal dunia. Pada Tahun 1943 terjadi lagi, 2800 rumah hancur, 213 orang meninggal, 2096 orang luka. Tahun 1981 gempa di Yogyakarta mengakibatkan dinding Hotel Ambarukmo retak-retak. Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | Liputan gempa jogja - 597 sec Ini liputan gempa Jogja versi GBI Gen-B. Selain jadi korban, juga berani jadi relawan dong! Auteur : nichanvideo Tags:Liputan gempa jogja  | | Masjid Jogokariyan, gempa Bantul Yogyakarta - 391 sec Dear all.
Segala puji hanya bagi Allah SWT. Malam tadi listrik baru nyala, jadi hari ini saya buka email. Kami sekeluarga selamat setelah melalui cobaan yang sangat berat. Walaupun tidak mudah untuk melupakan peristiwa dahsyat tersebut namun sedikit demi sedikit rasa takut mulai sirna. Hati semakin tentram karena malam tadi, hari ketiga pasca gempa, listrik mulai hidup dan kami mulai melihat dunia luar lewat jendela televisi. Siaran radio yang sejak gempa tidak ada musik kecuali informasi dari BMG dan komunikasi dari para korban gempa, kini sudah mulai diselingi dengan lagu dan iklan.
Waktu itu, 27 May 2006, kira-kira pukul 05.54 WIB, saya dan istri sedang masak di dapur. Tiba-tiba tanah bergeser sehingga air yang baru saya taroh di atas kompor mental. Spontan, istri saya tarik keluar sambil teriak: "Gunung Merapi meletus, keluar semua!". Kedua anak saya langsung lompat keluar dari kamarnya masing-masing, sementara anak ketiga saya, berusia 6 tahun, masih tidur di kamar yang paling jauh dari pintu dapur. Sambil mematikan kompor, dalam keadaan bumi masih bergetar, saya coba jemput dia lewat pintu penghubung antara dapur dan ruang utama. Sayang, handle pintu tiba-tiba putus. Alhamdulillah istri masuk lewat pintu tengah dan menggendong keluar anak saya yang masih tidur tersebut. Di luar rumah kami tidak bisa bergerak ke manapun, seakan kaki ini lengket dengan tanah.
Halaman depan tempat tinggal saya jadi dapur umum. Sementara itu Masjid Jogokariyan seketika berubah menjadi rumah sakit darurat dan dipenuhi oleh pasien yang berdatangan terus menerus dari berbagai kampung tetangga di sebelah selatan yang keadaannya lebih parah. Di bawah pimpinan bapak RW saya bekerjasama dengan dosen salah satu universitas di Bengkulu, mengerahkan para mahasiswanya yang sedang rekreasi ke Jogja dan menginap di sebuah hotel di kampung kami, untuk membantu para korban gempa di wilayah RT kami sebisanya.
Hari terasa sangat pendek, tahu-tahu matahari sudah tenggelam. Saya yakin, hampir tidak ada yang sempat mandi dan buang air kecil maupun besar pada hari itu. Saya sendiri tidak merasa lapar melainkan mual dan ingin muntah, tapi saya tahan. Dari jam ke jam otak saya terasa semakin mendidih disertai perasaan was-was yang sangat tinggi.
Dengan penerangan obor dan lilin, kami, beberapa keluarga bertetangga, tidur di halaman yang agak luas sambil merasakan gempa-gempa susulan yang sangat mencemaskan. Tidak adanya informasi yang jelas mengenai apa yang sedang terjadi akibat listrik mati membuat kami semakin cemas. Waktu itu ada kabar dari mulut ke mulut bahwa jam 10.30 malam nanti akan ada gempa susulan yang besar. Jadi, menjelang jam tersebut kami semua bersiap-siap untuk angkat kaki. Selepas tengah malam tidak ada yang bisa tidur hingga fajar menyingsing kembali.
Keesokan harinya hampir semua kaum wanita dan anak-anak kena trauma yang berat, anak saya yang paling kecil sering merasa takut. Selama dua hari pasca gempa, kedatangan malam selalu disertai hujan lebat dan angin yang agak besar sehingga menambah panik warga. Saat itulah terasa bagi saya betapa beratnya beban mental para pengungsi di wilayah selatan (Bantul) yang keadaannya jauh lebih parah, tanpa makanan, tenda dan penerangan.
Rasanya tidak ada perbedaan antara satu hari dengan hari yang lain. Sabtu, Minggu dan Senin sama saja. Sewaktu-waktu beberapa helikopter beterbangan di atas dan bunyi sirine kendaraan ambulance meraung-raung. Bahkan tadi pagi, setelah salat subuh di mesjid, kami masih menyalatkan salah satu warga yang baru saja meninggal dunia. Selama ini orang Jogja "menikmati" keindahan pemandangan Merapi yang sedang flu dari kejauhan serta berpikiran bahwa bahaya Merapi gak bakalan sampai ke kota Jogja. Tiba-tiba, bencana lain datang dari arah yang tidak diduga-duga sama sekali, Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.
ANDRE INDRAWAN
(& gitarnya) baik-baik saja. Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia Masjid Jogokariyan  | | Bangkit Kembali Pasca Gempa Bantul Yogyakarta - 519 sec Gempa bumi hebat yang menghancurkan berbagai sendi kehidupan Jogja telah berlalu. Masyarakat, terutama yang menjadi korban, perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Mereka mulai berbenah, baik secara individu maupun bergotong royong membersihkan reruntuhan bekas bangunan rumah yang diamuk goncangan berkekuatan 5,9 SR tersebut. Sebagian dari mereka bahkan telah kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti sebelum bencana terjadi. Warga Jogja tampaknya tak ingin berlama-lama meratapi bencana yang merupakan cobaan dari Sang Khalik ini.
Berhenti menangis dan mulai berbenah, hal itu pula lah yang dilakukan oleh pasangan tuna netra Agus Prayitno dan istrinya, Sadinem. Meski terpaksa tinggal di tenda biru yang terasa panas di siang hari dan dingin serta bernyamuk di malam hari, mereka tetap tersenyum seiring roda kehidupan yang terus berputar. Agus yang profesi sehari-harinya menjadi tukang pijit panggilan mulai kembali menerima tawaran. Bahkan dari kebangkitan semangatnya untuk tidak berdiam diri ini pula keluarganya beroleh tenda untuk berteduh.
Rumah berukuran 3 x 6 m2 yang ia bangun bersama istri sejak tahun 1981 hancur rata dengan tanah pada peristiwa gempa yang melanda Jogja 27 Mei 2006 lalu. Melihat kondisi rumahnya, banyak orang mengira kalau bapak satu anak yang tidak dapat melihat sejak tahun 1951 ini telah tewas tertimbun bangunan. Agus sendiri terkadang masih tidak percaya bahwa dirinya dapat selamat dari peristiwa itu. Pasalnya ketika gempa itu terjadi, ia masih tidur dikamarnya. Ketika orang mulai berteriak-teriak, ia pun bangun dan tanpa tahu bagaimana cara berjalan, ia telah sampai di depan rumah dengan tanpa luka sedikitpun. Bahkan genteng yang berjatuhan tak ia rasakan. Agus percaya ada tangan yang menuntunnya keluar, sehingga ia selamat.
Kesadaran bahwa ini adalah sebuah cobaan untuk membuat manusia sadar dan mulai hidup dengan adil membuatnya tetap bersemangat. Saat ini ia banyak berdoa dan kembali bangkit untuk menata hidupnya dengan menerima tawaran pijat. Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Pasar Niten Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | NITIKAN, Gempa Bantul Yogyakarta - 185 sec Kemalangan seperti tak berhenti menimpa warga Bantul, Yogyakarta. Setelah diguncang gempa berkekuatan 5,9 skala Richter, rumah- rumah mereka roboh rata dengan tanah, kegelapan tanpa listrik, dan curah hujan kini harus mereka "arungi". Di kabupaten itu saja sampai Minggu (28/5/2006) petang tercatat sudah 2.700 orang lebih meninggal dunia. Belum termasuk korban lain di kabupaten lain di Provinsi DI Yogyakarta dan kota-kota lain di Provinsi Jawa Tengah.
Hujan tiba-tiba turun sejak Minggu sore, sementara sebagian besar warga hanya tidur "beratap langit". Bantuan tenda dan logistik yang diharap-harap pun tak kunjung tiba....
Sepanjang jalan di sekitar Kecamatan Sewon menuju ke arah kota Bantul warga hanya menggelar selembar tikar atau apa saja yang bisa dijadikan alas untuk tidur, tanpa atap. Namun, langit memang tidak sedang ramah hari ini. Lantaran hujan sebagian kemudian memfungsikan alas tidur sebagai atap.
Itu artinya, kalau hujan reda, mereka harus tidur di atas alas yang basah. Penderitaan itu pun masih harus ditambah lagi dengan padamnya aliran listrik sejak Sabtu pagi. Warga Bantul benar-benar harus hidup dalam "kegelapan", bukan semata karena ketiadaan penerangan, tetapi lebih-lebih lantaran ketidakjelasan hari esok.
Siang hari setelah guncangan, Jumilah (60) sudah mengungsi bersama cucunya, Afnan, yang baru lahir dua bulan lalu. Perempuan asal Dusun Serut, Desa Palbapang, Bantul, ini mengungsi di tenda peleton di Lapangan Trirenggo. "Saya tidak perlu dipikirkan, tolong carikan cucu saya baju, ia kedinginan...," ujar Jumilah. Tak seorang pun bergeming. Bahkan beberapa anggota satkorlak yang diajaknya bicara seperti tak berbuat apa-apa. Celakanya lagi, tenda yang diharap bisa memberi perlindungan dari ancaman dingin dan hujan malah kebanjiran karena hujan deras. "Kami terpaksa tidur sambil berdiri menggendong bayi...," tutur Jumilah. Siti Maryati (25), ibu sang bayi, hanya mengangguk. Mungkin ia sudah kehabisan kata untuk mengungkapkan penderitaan keluarga.
Eni Trianawati (23), yang baru melahirkan dua hari lalu, juga rela menapaki bukit yang penuh pepohonan kayu putih di Hutan Bunder Gunung Kidul untuk mengungsi di tempat itu. Bayi yang belum dinamainya ini menangis sepanjang jalan. Di hutan beberapa kali mereka merasakan gempa susulan dan hujan deras. Ia lari ke hutan bersama ratusan orang lainnya dan tinggal di situ sampai Minggu pagi untuk menghindari gempa dan isu tsunami. Tak ada tenda layak ataupun makanan saat ia mengungsi di situ padahal anaknya sepanjang malam menangis karena kedinginan dan kelaparan.
"Kami butuh bantuan, Mas ini wartawan dari mana? Tolong kami, Mas. Ayo lihat rumah kami di sana. Semuanya hancur dan sampai saat ini kami belum dapat bantuan. Padahal warga dusun lainnya sudah," ujar Johan (30), dengan mata berkaca-kaca. Tangisannya pun keluar sesenggukan dan butiran air mata itu disekanya dengan punggung telapak tangan. Warga Demangan, Trimulyo, Jetis, Bantul, ini kemudian menggandeng tangan wartawan dan memperkenalkan pada beberapa tetangganya yang saat itu tengah berdiri di tepi jalan Imogiri. Keluhan mereka pun sama, sangat berharap ada bantuan, terutama untuk makanan dan tenda berlindung dari hujan.
Jika kemudian di hampir seluruh tepi jalan sekitar Bantul ada tulisan berbunyi, "Kami Butuh Bantuan" atau "Menerima Logistik", duduk perkaranya makin menjadi jelas.
Sehari setelah bencana, sebagian besar warga belum menerima bantuan yang layak. Jangankan makanan, sekadar tenda berteduh dari guyuran hujan pun belum mereka terima. Dalam kondisi seperti itu, warga berupaya mencari jalannya sendiri. Selain mendirikan tenda-tenda dengan bahan apa saja, mereka juga mulai meminta sumbangan kepada setiap kendaraan yang lewat.
Hampir di sepanjang ruas jalan dari perempatan Wonokromo di Kecamatan Plered, ke arah Imogiri, siang itu penuh oleh warga yang membawa kardus sumbangan. Hal yang sama terjadi di ruas jalan dari Imogiri ke arah Kota Bantul. Kondisi ini didorong oleh "kekosongan" akibat kelambanan pemerintah dalam menangani para korban. Warga mengambil "inisiatif" sendiri, karena merasa "ditelantarkan".
Bupati Bantul Idham Samawi memang telah berjanji untuk sesegera mungkin mendistribusikan bantuan agar warga tidak meminta-minta sumbangan di jalanan. Idham menyatakan, bantuan sudah berdatangan dan distribusi dipusatkan di 17 kantor kecamatan yang ada. Persoalannya, "jalur distribusi" selalu butuh pengawalan ketat supaya materi yang didistribusikan segera sampai. Distribusi juga butuh sukarelawan pelaksana yang militan, yang hanya mengabdi pada kepentingan rakyat yang amat menderita. Kalau begitu, ia harus bekerja keras karena sampai Minggu sore warga yang menggelar tikar atau lembar papan rumahnya di sekitar Kecamatan Kasihan, Bantul, masih cukup banyak. Beberapa bahkan di antaranya membuat tenda darurat di tengah-tengah persawahan. Dalam cuaca hujan, tentu saja sawah sangat rentan terhadap banjir. Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | Parangtritis, detik-detik menjelang gempa Bantul - 93 sec Inna Lillahi wa inna ilaihi rajiun. Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan hanya kepada Allah kita akan kembali.
Yogyakarta, 27 May 2006, di Parangtritis sedang direncanakan untuk diadakan acara pertunjukkan ketangkasan sepeda motor (motorcycle shows). Pagi itu cuaca di lokasi Pantai Parangtritis cukup cerah, penonton sudah banyak yg berdatangan. Hari itu, hari Sabtu dan merupakan waktu liburan sekolah, sehingga banyak yg ingin menyaksikan acara menarik ini.
Pagi itu, sekitar pukul 5.54, merupakan hari yang tidak disangka-sangka, hampir berbarengan dengan terbitnya sang surya, tiba-tiba seluruh rumah dan isinya bergoyang-goyang hampir 1 menit, tidak lama kemudian teriakan-teriakan histeris dan bunyi barang jatuh terus bersahut-sahutan, "erangan-erangan" kesakitan turut membuat pilu suasana.
Sekali lagi, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menunjukkan kekuasaanNya kepada umat manusia serta memberinya cobaan. Ribuan rumah di Bantul rata dengan tanah, ribuan jiwa meninggal dunia menghadap Illahi akibat terkena reruntuhan bangunan. Bagi mereka yang meninggal dunia, mereka telah dipilih Allah untuk menjadi syuhada, sebab mereka meninggal akibat musibah yang terjadi. Jika dalam hadis disebutkan bahwa mereka yang meninggal akibat sakit perut, akibat tenggelam dapat menjadi syahid, maka dapat kita qiyaskan juga mereka yang meninggal akibat terkena runtuhan bangunan, akibat bencana ini juga merupakan syuhada sebab mereka terkena musibah dan bencana alam.
Dari isu yang beredar di masyarakat, gempa itu adalah akibat dari ledakan Bom Nuklir. Isu tersebut sebenarnya adalah kabar bohong belaka. Berikut ini adalah analisa seorang pakar nuklir yang mengatakan bahwa gempa Jogja mustahil akibat ledakan Bom Nuklir:
Dari eksperimen ujicoba detonasi nuklir permukaan tanah di medan percobaan Gurun Nevada dan atol Bikini, diketahui bahwa range fraksi energi ledakan yang diubah menjadi energi gempa berkisar antara 0,1 % hingga 0,001 %. Jika diambil nilai tengahnya (0,001 %) dan digabungkan dengan persamaan yang dikembangkan Charles F. Richter dan Beno Gutenberg, didapatkan hubungan antara energi ledakan (W, dalam kiloton) dengan Magnitude gempa (M, dalam hal ini body-wave magnitude/Mb dengan satuan skala Richter) sebagai berikut : log W = 1,5 Mb - 3,82
Untuk gempa Yogya, dengan Mb = 5,9 skala Richter dibutuhkan ledakan nuklir hipotetik - yang kita sebut saja sebagai "ledakan Parangtritis" - berenergi 107.000 kiloton atau 107 megaton. Sebagai pembanding, letusan bom Hiroshima 'hanya' melepaskan energi 20 kiloton saja atau 5.300 kali lebih lemah. Titik ledak (ground zero) "ledakan Parangtritis" juga harus berada di media yang padat, sehingga satu-satunya kemungkinan hanyalah di dasar laut. Namun akan kita lihat dalam bahasan selanjutnya, jika titik ledak ditempatkan di dasar laut akan muncul bentukan awan cendawan raksasa dan gelombang pasang (tsunami)
Dalam sejarah eksperimen ujicoba senjata nuklir ledakan terdahsyat yang bisa dicapai adalah sebesar 50 megaton, ketika militer Uni Soviet meledakkan Tsar Bomba (King of the bombs) hasil racikan Andrei Sakharov dan kawan-kawan di atas pulau Novaya Zemlya di ketinggian 4.000 meter pada 30 Oktober 1961 (Sublette, 1998). Meski secara teoritis bisa saja dirancang senjata nuklir berenergi 100 - 150 megaton menurut metode Sloika/Alarm Clock-nya Sakharov maupun Staged Radiation Implosion-nya Edward Teller & Stanislav Ulam (AS), secara teknis sangat sulit untuk mencapai tingkatan energi tersebut mengingat efisiensi reaksi fissi dan fusi cukup rendah. Sebagai gambaran, bom Hiroshima memiliki efisiensi fissi 'hanya' 1,4 %, sementara Bom Nagasaki sedikit lebih tinggi (17 %).
Maka sangat sulit menyebut "ledakan Parangtritis" berasal dari ledakan nuklir tunggal. Dan bila dianggap berasal dari ledakan nuklir ganda (multiple), muncul kesulitan teknis lain berupa penanganan sekian banyak hululedak agar bisa terdetonasi secara simultan, mengingat prosedur peledakan senjata nuklir amatlah rumit. Ambil contoh, jika "ledakan Parangtritis" berasal dari hululedak B83 atau B83-1 Bomb (hululedak terdahsyat dalam inventori US Air Force, lihat Sublette 1998) yang energi maksimumnya 1,2 megaton, maka dibutuhkan sedikitnya 89 hululedak nuklir sejenis dan tak terbayangkan kesulitan yang muncul dalam menangani hululedak sebanyak ini secara bersama-sama. Apalagi bila digunakan hululedak lain yang energinya lebih kecil.
Dari uraian di atas, sangat sulit untuk mengatakan kemunculan awan aneh di Parangtritis yang menyertai gempa 27 Mei 2006 kemarin sebagai akibat dari ledakan Nuklir maupun tumbukan Meteor.
Diambil dari : http://rovicky.wordpress.com/2006/09/05/gempa-yogya-ledakan-nuklir-dan-tumbukan-meteor-sebuah-pengandaian/ Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia Pantai Parangtritis Detik-detik ledakan bom nuklir  | | Detik-detik gempa di Parangtritis Bantul Yogya - 134 sec Inna Lillahi wa inna ilaihi rajiun. Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan hanya kepada Allah kita akan kembali.
Yogyakarta, 27 May 2006, di Parangtritis sedang direncanakan untuk diadakan acara pertunjukkan ketangkasan sepeda motor (motorcycle shows). Pagi itu cuaca di lokasi Pantai Parangtritis cukup cerah, penonton sudah banyak yg berdatangan. Hari itu, hari Sabtu dan merupakan waktu liburan sekolah, sehingga banyak yg ingin menyaksikan acara menarik ini.
Tanpa disangka-sangka, gempa tektonik pada sabtu pagi 27 Mei 2006 dengan skala richter 5,9 telah menggoyang bumi yogyakarta dan Jawa Tengah. Sekali lagi Allah menunjukkan kekuasaanNya kepada umat manusia. Pada saat pemerintah dan masyarakat menunggu-nunggu lahar dari gunung Merapi, dan mempersiapkan segala sesuatu akibat letusan gunung, ternyata yang terjadi bukan ledakan gunung, tetapi gempa tektonik yang berasal dari pergeseran lempengan bumi di bawah laut, sehingga mengakibatkan hancurnya gedung-gedung di kawasan Bantul, Sleman, Kulonprogo, Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah. Ribuan rumah di Bantul rata dengan tanah, ribuan jiwa meninggal dunia menghadap Illahi akibat terkena reruntuhan bangunan, ini semua merupakan peringatan dari Allah untuk kita semua. Ini juga merupakan musibah Nasional dan pada waktu yang sama ini merupakan ujian keimanan dan ujian untuk meningkatkan pahala. Jika kita bersabar dalam menghadapi musibah tersebut maka pahala akan dapat kita raih dan ukuran tingkat iman kita akan naik beberapa derjat; tetapi jika kita tidak sabar, atau sampai mengeluh kepada Tuhan mengapa bencana terjadi, maka berarti kita telah mengalami degradasi iman.
Bagi mereka yang meninggal dunia, mereka telah dipilih Allah untuk menjadi syuhada, sebab mereka meninggal akibat musibah yang terjadi. Jika dalam hadis disebutkan bahwa mereka yang meinggal akibat sakit perut, akibat tenggelam dapat menjadi syahid, maka dapat kita qiyaskan juga mereka yang meninggal akibat terkena runtuhan bangunan, akibat bencana ini juga merupakan syuhada sebab mereka terkena musibah dan bencana alam.
Pada tahun 1867 di Yogyakarta pernah terjadi gempa bumi yang merobohkan 372 rumah, 5 orang meninggal dunia. Pada Tahun 1943 terjadi lagi, 2800 rumah hancur, 213 orang meninggal, 2096 orang luka. Tahun 1981 gempa di Yogyakarta mengakibatkan dinding Hotel Ambarukmo retak-retak.
Dari isu yang beredar di masyarakat, gempa itu adalah akibat dari ledakan Bom Nuklir. Isu tersebut sebenarnya adalah kabar bohong belaka. Berikut ini adalah analisa seorang pakar nuklir (Link: http://rovicky.wordpress.com/2006/09/05/gempa-yogya-ledakan-nuklir-dan-tumbukan-meteor-sebuah-pengandaian/ ) yang mengatakan bahwa gempa Jogja mustahil akibat ledakan Bom Nuklir.
Tentang bola api yang disangka merupakan ledakan Nuklir? Coba buka link: http://rovicky.wordpress.com/2006/08/22/bola-api-saat-gempa-di-jogja/ Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia  | | _Doaku_, detik-detik menjelang gempa Bantul - 285 sec Parangtritis, detik-detik menjelang gempa 27 Mei 2006. Musiknya diambil dari Sound Ending radio MQ FM, pada acara siraman rohani setiap pukul 05.00-06.00 pagi. Gempa 27 Mei 2006 terjadi setelah pengajian Aa Gym di MQ FM Selesai dan Musik dari Hadad Alwi ini dialunkan.
Pagi itu, di Parangtritis sedang direncanakan untuk diadakan acara pertunjukkan ketangkasan sepeda motor (motorcycle shows). Cuaca di lokasi Pantai Parangtritis cukup cerah pagi itu, penonton sudah banyak yg berdatangan. Hari itu, hari Sabtu dan merupakan waktu liburan sekolah, sehingga banyak yg ingin menyaksikan acara menarik ini. Begitu terjadi gempa, mereka langsung lari tunggang langgang menjauhi pantai.
Berdasarkan pemantauan dari empat stasiun seismograf di Gunung Merapi oleh Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan laporan dari Global Seismic Network milik Amerika Serikat, gempa tektonik ini tepat terjadi pada pukul 05.53.58, persisnya di koordinat 8,007 Lintang Selatan dan 110,286 Bujur Timur dengan kemiringan 87 dan pergeseran 3 , pada garis lurus pada kedalaman 33 KM di bawah permukaan tanah, yang berjarak kurang dari 35 km dari Yogyakarta persis di bibir pantai. Sedangkan menurut United States Geological Survey (USGS), lembaga survei yang memiliki peralatan serba canggih, menyatakan pusat gempa terjadi di daratan di kedalaman 35 km dan berkekuatan 6,2 Mw (moment magnitude).
Rambatan gempa berasal dari pergeseran patahan berupa gerakan berlawanan dari sekitar Pantai Depok, membujur ke arah timur laut melewati Gading Kauman, Tirtoharjo, Kaliwening, Ngambangan, Cangkiring, hingga Gondowulung di Plered, Bantul.
Gempa ini tergolong gempa bumi merusak dengan skala kerusakan 7 Mmi (modified mercally intensity). Kerusakan mutlak apabila skala mencapai angka absolut 12 Mmi. Skala Mmi dikembangkan oleh ahli seismologi Amerika Serikat, Harry Wood dan Frank Neumann. Orang baru mulai mengenal skala Richter yang dikembangkan oleh ilmuwan dari California Institute of Technology, Charles F Richter, pada tahun 1935. Dalam skala ini magnitude 5,3 SR masuk tingkatan gempa bumi yang moderat, sedangkan gempa besar tingkatannya mulai 6,3 SR ke atas.
Menurut analisis Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, gempa bumi di Bantul disebabkan reaktivasi sesar. Peristiwa alam ini merupakan pergeseran antara dua sesar atau patahan pada lempeng (plate) Eurasia. Pergeseran sesar aktif akibat desakan lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia ini menimbulkan gelombang gempa mendatar.
Kabupaten Bantul merupakan pusat kerusakan karena dekat dengan sumber gempa bumi dan substan lapisan di bawah daratan Bantul merupakan lapisan aluvial pantai, endapan batu gamping, dan endapan letusan gunung api yang bersifat memperbesar efek guncangan gempa. Daya rusak gempa ini meluas karena garis reaktivasi sesar memanjang dari Bantul ke arah Klaten, bahkan gedorannya sampai ke Solo.
Kerusakan di tiap daerah berbeda, karena kondisi bangunan, perbedaan struktur tanah, dan letak bangunan terhadap jalur sesar. Kebanyakan bangunan yang remuk, rata dengan tanah, terjadi karena konstruksinya tidak tahan dengan gempa.
Gempa ini sempat teredam lapisan pasir yang tebal di sepanjang 'gumuk' (bukit pasir) Pantai Selatan (Parangtritis). Karena itu, kerusakan di daerah pantai lebih ringan dibandingkan dengan daerah Bantul tengah dan utara yang struktur tanahnya mengandung lempung.
Disamping bangunan tempat tinggal yang mengalami kerusakan, beberapa situs yang berada di wilayah DIY dan sekitarnya juga mengalami kerusakan.
Dari data historis kegempaan Pulau Jawa, Yogyakarta telah diguncang sedikitnya empat gempa sebelumnya yang berkisar 6 skala Richter, yaitu pada tahun 1867, 1937, 1943, dan 1981.
Dari isu yang beredar di masyarakat, gempa itu adalah akibat dari ledakan Bom Nuklir. Isu tersebut sebenarnya adalah kabar bohong belaka. Berikut ini adalah analisa seorang pakar nuklir (Link: http://rovicky.wordpress.com/2006/09/05/gempa-yogya-ledakan-nuklir-dan-tumbukan-meteor-sebuah-pengandaian/ ) yang mengatakan bahwa gempa Jogja mustahil akibat ledakan Bom Nuklir Auteur : wanawotvideo Tags: Jogjakarta Earthquake Gempa Bantul Yogyakarta Indonesia Hadad Alwi MQ FM  |
|